Bagaimana Selayaknya menyikapi kematian Mbah Marijan?
Oleh : Dedy Yanwar El Fani
Akhir-akhir ini orang begitu sibuk mengomentari meninggalnya sosok fenomenal Mbah Marijan ketimbang bertindak konkret membantu korban bencana. Ditambah lagi jasad beliau yang diketemukan dalam keadaan sujud, membuat perbincangan semakin menghangat diantara mereka. Ada yang berkomentar dengan nada takjub melihat fakta tersebut, dan tidak sedikit pula yang berkomentar sinis mencap negatif sang juru kunci ini. Lalu bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang muslim menyikapi perbincangan diatas??
Akhir-akhir ini orang begitu sibuk mengomentari meninggalnya sosok fenomenal Mbah Marijan ketimbang bertindak konkret membantu korban bencana. Ditambah lagi jasad beliau yang diketemukan dalam keadaan sujud, membuat perbincangan semakin menghangat diantara mereka. Ada yang berkomentar dengan nada takjub melihat fakta tersebut, dan tidak sedikit pula yang berkomentar sinis mencap negatif sang juru kunci ini. Lalu bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang muslim menyikapi perbincangan diatas??
Hukum asal penilaian kita terhadap sesama muslim, adalah wajib berkhusnudzon. Prasangka buruk dan tuduhan terhadap sesama muslim akan berujung keburukan yang balik ke diri sendiri atau umat muslim lain. Rasulullah pernah bersabda: "Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu." [HR. Bukhari dari Abu Dzar]. Apa kita mau sembarang menuduh sesat dan tuduhan itu ternyata balik kekita? Maka prasangka kita tetap dikembalikan pada hukum asalnya, wajib berkhusnudzon terhadap sesama muslim. Sampai ada bukti - bukti yang menguatkan dugaan adanya tindak kesalahan terhadap muslim tersebut, barulah kita boleh berprasangka negatif dengan maksud hendak menasehati dia, diri sendiri, dan orang banyak. Lalu bukti-bukti apa yang boleh dijadikan hujjah? Pertimbangan yang boleh kita pakai untuk menilai seseorang hanyalah yang bersifat dzohir, bukan yang batin seperti filling, intuisi dsb. Yang batin itu urusan Allah SWT, karena Allah lah yang menggenggam hati-hati manusia. Kalau secara dzohir nyatanya Mbah Marijan meninggal dalam keadaan sujud, maka kita wajib berkhusnudzon. Masalah dia sujud untuk siapa dan karena apa? Hanya yang bersangkutan dan Allah SWT yang tahu.
Lalu ada mengungkapkan anggapan adanya tindakan kesyirikan yang dilakukan beliau, seperti pengagungan terhadap gunung dll. Kalau benar kita menemukan yang dzohir dari Mbah Marijan adalah penghambaan selain Allah, atau percaya kekuatan selain Allah, ya apa boleh buat? kita wajib menyalahkan tindakan tersebut. Tetapi pertanyaan besar patut kita renungkan, apa kita sudah tahu pasti atau melihat sendiri perbuaatan beliau yang kita anggap syirik? Jika hanya mendasari pada "kata orang" yang belum tentu terpercaya, itu jelas nggak bisa dibenarkan, jatuhnya bisa fitnah. Disebutkan dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW amat marah terhadap sahabat Usamah RA. lantaran ia bertindak gegabah membunuh seorang kafir yang telah bersyahadat yang dikala itu ia sedang terdesak dalam sebuah peperangan. Sahabat Usamah RA sempat memberikan alasan kepada Rasulullah mengapa ia tetap membunuhnya meski telah mengucapkan kalimah syahadat. Besar kemungkinan orang kafir tersebut bersyahadat karena takut di bunuh. Maka apa jawab Nabi Saw. ? “Halla syaqogta qolbuhu?” Artinya, Apakah engkau telah membelah hatinya, sehingga engkau mengerti kalau ia bersayahadat karana takut kau bunuh? kalau kita tarik untuk kasus ini, lalu apakah kita sudah membelah hati Mbah Marijan sehingga kita tahu isi hatinya cenderung pada kesyirikan?
Sebuah cerita kronologi menjelang meninggalnya Mbah Marijan bisa kita jadi rujukan penilaian, penuturan langsung dari relawan yang hendak menjemput Mbah Marijan. Sewaktu rombongan untuk evakuasi warga sudah berangkat, satu mobil yang dinaiki dua relawan Tutur dan Wawan mencoba tetap bertahan untuk terus membujuk mbah marijan turun. Tetapi beliau meminta waktu untuk shalat terlebih dahulu. Di sela-sela upayanya menjemput Mbah Maridjan, Wawan sempat berkomunikasi dengan sahabatnya, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Rinny Soegiyoharto. "Saya lagi di rumah Mbah Maridjan. Saya menunggu, dia lagi shalat," kata Wawan kepada Rinny lewat ponselnya, pada pukul 18.29 WIB. Tak tahunya awan panas keburu datang meluluh lantahkan perkampungan Mbah Maridjan. Mbah maridjan meninggal dalam keadaan sujud, semoga saja ini mnjadi pratanda khusnul khatimah. Dan apalah artinya semua amal didunia jika tidak ditutup dengan akhir yang baik (beriman)? Smoga Allah mengampuni beliau, semoga juga mbah marijan sudah sempat menghaturkan taubat jika benar beliau sebelumnya pernah melakukan kesyirikan. Wallahu 'alam Bish Showab.

No comments