Critical Review: Film kontroversial "Cin(T)a, GOD is a director: Antara Cina, Tuhan, dan Annisaa"
Beberapa pesan dan value yang bisa kita tangkap dalam film ini, akan di tampilkan dalam poin-poin pembahasan. Mari simak baik-baik perpoin dibawah ini.
- Dibalik karakter Tokoh Annisa. Walaupun dalam film Annisa berprofesi sebagai artis dengan segala stigma negatif dari publik, akan tetapi dia tetap digambarkan sebagai orang yang cukup religius (rajin Sholat), dan punya keberpihakan (Pembelaannya terhadap Islam dalam debatnya dengan cina). Ada pesan yang terkandung dibalik pembentukan karakter Annisa. Banyak orang sering menganggap seorang Muslim yang membenarkan dan melakukan nikah beda agama pasti adalah orang yang jahil (bodoh akan agama), dan fasiq (tidak taat). Tetapi film ini sungguh ingin membantah itu semua. Orang Islam cukup taat pun berpotensi melakukan nikah beda agama. Mereka mengatakan atas nama cinta sebagai fitrah manusia dan anugrah Illahi, maka denganya otomatis membatalkan norma-norma agama yang bertabrakan, naudzubillah!! Walaupun tetap saja bagi Muslim yang mengerti syariat, akan mempertanyakan benarkah Annisa seorang Sholehah? (gak pake jilbab, berkholwat, bersentuhan bukan muhrim, hah!!) Tetapi bagi seorang MUSLIM AWAM (sasaran film ini), tentu akan berpikir Annisa adalah muslim taat. Karena muslim taat itu ya cukup dengan sholat atau berpuasa. So, one more point to propaganda!!
- Alur Cerita Yang Efektif. Alur cerita ini yang begitu bagus, maka tak salah jika penonton terbuai dengan alurnya. Bagaimana Annisa yang hampir terpuruk dalam hidupnya, lalu seolah menemukan semangat kembali melalui seorang yang berbeda agamanya (Cina). Bagaimana memunculkan alur klimaks yang efektif, ketika dikisahkan saat terjadinya bom gereja. Saat itu pula penonton akan digiring pada opini “fundamentalis sialan! merusak kerukunan!”, dan persepsi bahwa nikah beda agama adalah jalan terbaik untuk menjaga kerukunan, toleransi dan mengakhiri konflik antar agama. Just Propoganda!
- Ending cerita yang provokatif. Ending dalam cerita ini memang benar-benar provokatif, dan efektif memancing emosi penonton. Benarkah? Mari hayati dengan betul skenario akhir ini. Ending ceritanya adalah mengisahkan Annisa dan Cina yang harus memutus hubungan karena persoalan beda agama, ditambah meruncingnya konflik antaragama disaat itu. Annisa pun akhirnya menuruti ibunya untuk menikah dengan seorang pria pilihan ibunya. Coba bayangkan apa yang terjadi pada penonton yang telah tersihir dengan keindahan hubungan Annisa dan Cina, pastinya mencak-mencak kan? Apalagi pemirsa film biasanya mendapati film drama asmara yang selalu berujung pada good ending. Ketika akhir cerita dibuat seperti ini, mungkin orang akan berkata “Sialan orang-orang yang melarang pernikahan beda agama, nggak manusiawi, nggak punya perasaan..” Gawat nggak tu?
- Kalimat Outline. Pernyataan yang diulang-ulang dan menjadi kalimat outline dalam film ini. Annisa: “Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah cuma ingin di sembah dengan satu cara?” Cina: “Makannya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu”. Benarkah pernyataan diatas? Untuk poin tentang realita kemajemukan manusia memang benar, dan Allah pun membenarkan dalam firmanNya surat Al Hujurat: 31: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal. Islam pun menagkui dan menyerukan hadirnya cinta (Mahabbah) ditengah-tengah umatnya, baik cinta transenden ataupun horizontal. Tapi apakah lantas adanya cinta sesama manusia, lebih spesifik lagi dua insan berbeda jenis lantas lebih diprioritaskan daripada cinta kepada Allah dan Rasulnya? Jelas ini perkara bathil. Apalagi cinta “Annisa” harus menggadaikan Aqidah yang menjadi pokok agamanya.
- Sangat Nyata Mengusung Pluralisme Agama. Dalam film ini muncul sebuah Ayat yang seringkali menjadi dalil Pluralisme dalam Islam: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqoroh:62). Padahal menurut Zamakhsyari, seorang ulama tafsir ternama, berpendapat bahwa ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang yang beriman secara verbal, tanpa diikuti dengan keteguhan dan keyakinan hati (orang-orang munafik), juga orang-orang Yahudi dan Nasrani serta shabi’un (yaitu orang-orang yang keluar dari kedua agama tersebut lalu menyembah malaikat), jika kemudian mereka beriman dengan keimanan sejati dan ia masuk agama Islam, lalu berdasarkan keimanan terakhir ini (yaitu Islam) mereka melakukan amal shaleh, mereka inilah yang mendapatkan jaminan pahala yang besar di sisi Allah SWT, terhindar dari rasa takut dan kesedihan (siksa Allah SWT). Cukup jelas ayat ini memang tidak pas untuk dijadikan hujjah Pluralisme Agama (Dikutip dari makalah Ust. Fathurahman Kamal: Telaah Kritis Atas ”Agama Baru”; Pluralisme Agama)
- Pernyataan Annisa 1, Menggugat pemegang otoritas agama. “Arsitek itu serasa Tuhan, Merasa paling tahu rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tahu dan yang terbaik ya, ya orang yang menjalani itu sendiri.” Pernyataan Annisa diatas memang tidak secara eksplisit mengaitkan dengan sesuatu nilai, tapi saya yakin yang ingin ditembak dari penyataan diatas adalah untuk mejustifikasi Liberasi pemikiran agama. La kok bisa? Pernyataan diatas sebenarnya ingin menyerang pemegang otoritas agama, yang disini disebut sebagai arsitek. Lalu siapa pemegang otoritas agama dalam Islam? Ya jelas para ulama termasuk juga institusinya, MUI, Muhammadiyah, NU, dan yang lainnya. Para pemegang otoritas agama/Ulama ini dianggap tidak berhak untuk menentukan sesuatu yang benar dan yang paling baik untuk pemeluk agamanya. Setiap pemeluk agamalah yang paling berhak untuk menginterpretasi agamanya masing-masing, dengan kata lain ada nilai kebebasan diangkat (Meliberalkan pemikiran agama). Ya, memang benar tidak selamanya buah pemikiran Arsitek dalam seni arsitektur, dan Ulama dalam pemikiran Agama selalu benar. Tapi bukankah mereka punya ilmu yang relatif lebih baik ketimbang orang-orang biasa. Bukankah kebaikan dan kebenaran itu lekat dengan Ilmu (Ilmu dunia ataupun agama)? Lalu kepada siapa kebenaran disandarakan, jika bukan kepada orang yang berilmu (Ulama)? Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ulama adalah pewaris-pewaris Rasulullah SAW”. Artinya Risalah Islam saat ini telah diwariskan kepada para Ulama, maka Ulama lah yang berhak memegang otoritas ajaran Islam.
- Pernyataan Annisa 2: “Islam kan banyak”. Ini persis seperti kejadian di Madura. Seorang bertanya: “Disini masyarakatnya memeluk agama apa?” Lalu dijawab warga setempat: “Alhamdulillah, disini 85% agamanya Islam, 10% nya itu Muhammadiyah.” Nah lo!! Pernyataan Annisa sungguh menghasilkan konsekuensi luar biasa. Pernyataan inilah yang menjadi sumber perpecahan umat Islam. Bagaimana mungkin ajaran yang diturunkan oleh Allah dari hanya satu Rasul, dikatakan banyak? Memang benar banyak mazhab yang berkembang, banyak ormas juga meramaikan, tapi apakah itu artinya Islam itu banyak? Tidak, ini pernyataan bathil. Islam itu hanya satu, sedangkan yang beragam itu interpretasi terhadap ajarannya. Mengapa banyak interpretasi? Ya karena itulah kelemahan kebanyakan manusia sebagai mahluk yang tidak maksum. Tentu kesalahan dalam Interpretasi suatu keniscayaan. Atau mungkin “banyak” bisa saja adalah bagian dari strategi perjuangan umat Islam.
- Kampanye Pembentukan Provinsi Tapanuli. Unsur politik juga turut mewarnai film ini. Ya ada kampanye terselubung untuk mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli. Ini tersirat dari pernyataan Cina, yang bercita-cita ingin menjadi Gubernur Tapanuli jika kelak sudah terbentuk. Tentu masih teringat jelas konflik pro-kontra tapanuli tahun ini telah merenggut nyawa, seorang ketua DPRD Sumsel yang diserang secara brutal oleh pendukung Provinsi Tapanuli. Just politik, mungkin ini biasa dan wajar. Tapi tidak wajar jika pemekaran ini berdasarkan motif yang lemah, Membentuk satu provinsi yang beragama mayoritas Kristen. Itulah beberapa poin pesan dan value yang termuat dalam film Cin(T)a. Keimpulannya film diatas kita tonton bukan untuk kita amalkan, tapi untuk kita kritisi, atau malah di counter balik. Semoga ini dapat bermanfaat dan mencerahkan kita. Untuk lebih paham tentang seperti apa pemikiran nikah lintas agama, silahkan untuk mendownload artikel Achmad Romadlan Deny SPd.I yang berjudul “Konsep Nikah Lintas Agama; Kritis Terhadap Pemikiran Liberal” Di link :

No comments