Islam dan Refleksi kemerdekaan
Oleh : Dedy Yanwar El Fani
Ketika mendengar kata kemerdekaan apa yang terbesit dalam pikiran kita? Kebebasan, kesejahteraan, terlepas dari penjajahan? Begitu banyak manusia yang memuliakan dan mengidam-idamkan kemerdekaan. Lalu apa yang membuatnya begitu berarti? Semua sepakat jika kata kemerdekaan cenderung mempunyai konotasi makna positif ketimbang makna negatif. Dari skala kehidupan terkecil saja yakni tiap individu manusia, mensaratkan adanya kemerdekaan pribadi sebagai nilai paling ideal. Tentunya dalam Islam kemerdekaan individu harus dapat dipertanggungjawabkan, terutama kepada Allah dengan syari’atnya, terhadap individu yang lain, juga terhadap bangsa dan negarannya.
Ketika mendengar kata kemerdekaan apa yang terbesit dalam pikiran kita? Kebebasan, kesejahteraan, terlepas dari penjajahan? Begitu banyak manusia yang memuliakan dan mengidam-idamkan kemerdekaan. Lalu apa yang membuatnya begitu berarti? Semua sepakat jika kata kemerdekaan cenderung mempunyai konotasi makna positif ketimbang makna negatif. Dari skala kehidupan terkecil saja yakni tiap individu manusia, mensaratkan adanya kemerdekaan pribadi sebagai nilai paling ideal. Tentunya dalam Islam kemerdekaan individu harus dapat dipertanggungjawabkan, terutama kepada Allah dengan syari’atnya, terhadap individu yang lain, juga terhadap bangsa dan negarannya.
Islam sendiri sangat memuliakan makna kemerdekaan. Tengoklah tujuan Islam datang di muka bumi ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memerdekakan manusia dari penjajahan nafsu syaithani. Hal yang mengakibatkan manusia terjebak pada perilaku sirik menyekutukan Allah dan kezhaliman yang lain. “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”…….. (Qs. An-Nahl : 36). Islam juga menghendaki manusia bebas dari belenggu tirani, baik yang dilakukan oleh personal maupun dari sistem jahil yang berlaku. Islam membawa konsep kesetaraan manusia dihadapan Allah, lalu sistem perbudakan pun dihapuskan. Sikap ashobiyah (fanatik kesukuan) dihilangkan, diganti dengan kepimpinan Islam yang adil dan bebas dari perilaku tirani. Maka tidak salah lagi bahwa hadirnya Islam memang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Negara Indonesia tidak hadir dalam sekejap mata, melainkan melalui proses panjang hingga mencapai klimaks kemerdekaan. Tidak ada yang menyanggah begitu besarnya peran umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bagi mereka berjuang melawan pemerintah kafir Belanda adalah perjuangan suci melawan tirani membela kemuliaan ad-Diin al-Islamiyah. Perjuangan yang gigih atas dasar karena Allah semata, mengantarkan para pejuang mukmin mendapatkan gelar mulia sebagai seorang syuhada’. Maka sudah sepantasnya melihat realitas sejarah, umat muslim mendapatkan tempat terhormat di negeri ini, ditambah lagi umat muslim adalah mayoritas penduduk. Jerih payah perjuangan harusnya dapat dinikmati umat muslim dewasa ini. Menikmati kesejahteraan hidup, pendidikan yang layak, keindahan jalinan ukhuwah, dan yang paling penting adalah aktualisasi syariah Islam dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Tapi realitas saat ini seperti apa, kita sendirilah yang bisa menilainya.
Dalam suasana euphoria perayaan kemerdekaan Indonesia saat ini, terpenting adalah bagaimana Islam dapat merefleksikan kemerdekaannya secara tepat dalam kerangka syariat. Lalu memahami makna kemerdekaan itu dengan tetap mengedapankan budaya kritis, juga mengisinya dengan hal yang positif. Bagaimana juga meyakinkan diri kita tentang arti sumbangsih terhadap bangsa ini. Bahwa semuanya sebenarnya juga akan kembali kepada umat muslim sendiri, karena penduduk Indonesia nyatanya memang mayoritas muslim. Berangkat dari situlah kita akan terpacu untuk selalu berbuat ma’ruf dengan progresif dalam setiap kebijakan produktif. Terdepan dalam mencegah perbuatan yang mungkar dengan tegas dalam kebijakan preventif.

No comments