Pencarian Akar Permasalahan
Oleh : Dedy Yanwar El Fani
Kalau kita inventarisir permasalahan di negeri ini mungkin tak akan cukup dituliskan dengan hanya beberapa lembar saja. cukuplah mencari akar masalah yang selama ini menjangkiti negeri ini. Ada dua kutub pendapat mengenai hal ini, yang pertama mengatakan bahwa akar masalah utama adalah kemiskinan, dan yang kedua mengatakan bahwa degradasi moral lah yang menyebabkan berbagai permasalahan termasuk disini kemiskinan dan ketidakadilan.
Kalau kita inventarisir permasalahan di negeri ini mungkin tak akan cukup dituliskan dengan hanya beberapa lembar saja. cukuplah mencari akar masalah yang selama ini menjangkiti negeri ini. Ada dua kutub pendapat mengenai hal ini, yang pertama mengatakan bahwa akar masalah utama adalah kemiskinan, dan yang kedua mengatakan bahwa degradasi moral lah yang menyebabkan berbagai permasalahan termasuk disini kemiskinan dan ketidakadilan.
Pada pendapat pertama yang mengatakan bahwa kemiskinan sebagai akar masalah mendasari pada dua sisi, kemiskinan sebagai masalah dan kemiskinan sebagai sebab masalah. Kemiskinan sendiri sebagai masalah utama lebih populis karena dampaknya yang begitu terasa. Kemisikinan menyebabkan kesengsaraan rakyat yang tidak mampu mencukupi kebutuhan ekonomi. Maka isu kemiskinan menjadi laris dan sering kali menjadi alat politik untuk mengangkat atau menjatuhkan pelaku politik.
Kemiskinan sebagai masalah juga menyebabkan dampak berantai (contagion effect), dan disinilah mengapa kemiskinan disebut sebagai akar permasalahan bangsa. Bagaimana realita terjadi tindakan Kriminal karena himpitan ekonomi, praktek korupsi, prostitusi, dan premanisme juga karena alasan ekonomi, bahkan pendapat datang dari Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri bahwa tindakan terorisme sebenarnya juga berakar pada kemiskinan. Contoh diatas ternyata kesemuanya berujung pada tindakan amoral.
Kutub selanjutnya yang mengatakan bahwa dekadensi moral yang menjadi akar masalah banyak datang dari kalangan agama dan budayawan. Degradasi moral sebagai masalah dapat dilihat dalam beberapa kejadian, ambil contoh perzinahan, pembunuhan, KKN, dan yang lainnya. Tapi yang paling utama dari dekadensi moral menjadi penyebab utama terjadinya krisis kepemimpinan (good leadership). Pemimpin yang kehilangan moralitas tak akan segan-segan melakukan penyimpangan dan menindas rakyatnya. Akhirnya yang terjadi adalah melebarnya kemiskinan struktural akibat kebijakan yang mencekik.
Akar permasalahan yang disebut diatas sesungguhnya, antara kemiskinan dan Degradasi moral yang dianggap sebagai akar masalah mempunyai keterkaitan satu sama lain, atau tidak ada yang berdiri mandiri. Argumen mengatakan kemiskinan sebagai akar masalah masih lemah. Karena kenyataan dalam kemiskinan struktural akibat kepemimpinan buruk (bad Leadership), kemiskinan tidak bisa dikatakan menjadi penyebab lahirnya bad leadership secara langsung. Oleh karena itu lebih berasal dari moralitas dan intelektualitas yang rendah sebagi akibat sistem pendidikan yang gagal. Kemiskinan memang mengakibatkan gagalnya seleksi kepemimpinan nasional, karena kemiskinan menghilangkan kesempatan (accesability) orang untuk mengenyam pendidikan formal. Akan tetapi jika akses pendidikan dibuka, dan seluruh rakyat Indonesia mengenyam pendidikan secara rata, sudahkah menyelesaikan masalah? Jawabnya tentu tidak, karena semasif apapun pendidikan dilakukan jika tidak diimbangi paradigma pendidikan yang benar hasilnya tetap "nol besar". Ibarat maling jikalau masuk sekolah Indonesia bukannya jadi baik, tapi tambah hanya tambah titel dibelakang, jadi "maling yang terdidik". Dari pecopet menjadi koruptor, dari blue color crime menjadi white color crime. Untuk penjelasannya mari perhatikan skema masalah dibawah ini.
Siklus Masalah
Merujuk gambar diatas, goal kita seharusnya adalah mewujudkan kesejahteraan material dan non material (spiritual) untukseluruh manusia Indonesia. Kalau kita sepakati tujuan bangsa seperti gambar diatas. Maka menyebutkan kemiskinan sebagai akar masalah menjadi tidak relevan, karena akan muncul tanda tanya, kemiskinan yang mana dulu? Strukturalkah? Atau kulturalkah? Kita tidak bisa menyamakan jenis kemiskinan ini, karena dalam penyelesainnya juga butuh treatment yang beda pula. Selain itu kelemahan kemiskinan disebut sebagai akar masalah, karena kemiskinan (struktural) hanya menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan, selain faktor kedua yakni paradigma pendidikan.
Sama halnya dengan kemiskinan, moralitas juga kurang tepat dijadikan akar masalah. Alasannya karena Moralitas hanya satu output dari tiga macam output kualitas pendidikan. Seorang Kyai yang bermoral pun akan kesulitan untuk mengelola lembaga publik, jikalau tidak diimbangi kapasitas managerial dan intelektual yang baik. Bangsa ini butuh wong pinter sing bener atau wong bener sing pinter. Maka sebuah sarat mutlak untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin Indonesia yang Intelek, bermoral, dan sekaligus juga berkarakter.
Gambar diatas semakin memperkuat gambaran akar permasalahan selama ini, yakni kualitas pendidikan yang rendah. Argumentasinya bisa dilihat diatas, jika kita benar-benar mampu memperbaiki kualitas pendidikan secara total, impact-nya akan luar biasa. Dengan kualitas pendidikan yang bagus akan membangun intelektualitas, moralitas, dan karakter sekaligus. Semuanya adalah pra syarat jika ingin menampilkan kepemimpinan nasional yang integred. Dengan mempunyai pemimpin yang integred tentu akan menghasilkan produk kebijakan yang bagus pula (pro masyarakat), hingga kemiskinan struktural bisa terhapuskan. Melaluicharacter building juga akan menggusur kemiskinan kultural yang selama ini menjangkiti kebanyakan manusia Indonesia. Maka goal utama untuk mencapai kesejahteraan yang integral adalah suatu keniscayaan.
Lalu faktor apa yang digunakan untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik? salah satunya adalah faktor akses pendidikan (accesability). Asumsinya dengan faktor accesability itu kualitas pendidikan akan terangkat karena proses seleksi sumber daya manusia dilakukan secara fair, memberikan peluang yang sama manusia Indonesia untuk melakukan mobilitas vertikal. Akan tetapi bukan hanya itu saja faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Faktor yang sekiranya jarang sekali disentuh dan menjadi salah satu faktor determinan juga yakni paradigma pendidikan. Sebaik apapun input SDM yang masuk, jika dalam proses pendidikan tidak benar akibat paradigma pendidikan yang salah, maka output pendidikan akan menghasilkan manusia yang “cacat” pula. Paradigma pendidikan seperti apa yang dibutuhkkan Indonesia. Tulisan selanjutnya akan lebih fokus didalamnya.
Gambar Siklus Masalah Kepemimpinan Al-Attas

No comments