Header Ads

Dari Gerakan Pemurnian Menuju Islah (bersambung 1)

Orang Muslim berandai-andai “Kalau saja ada pemimpin seperti Umar bin Khattab yang zuhud dan sederhana, kalau saja ada sosok Umar bin Abdul Aziz yang mensejahterakan rakyatnya, kalau saja ada pahlawan seperti Shalahudin Al Ayyubi yang membebaskan Palestina, alangkahnya mulianya keadaan umat muslim hari ini.”

Memang tak berlebihan seorang muslim jika merindukan sosok-sosok pemimpin diatas, karena merekalah orang yang berhasil mengangkat izzah Islam wal Muslimin di masanya. Tapi disatu sisi, apakah kita sudah yakin jika menghadirkan satu orang pemimpin sebut saja Shalahudin Al Ayyubi, lantas semuanya bisa berubah? Umat Islam bil khusus lagi Indonesia lalu otomatis sejahtera? Pastinya tidak semudah itu. Maka dari itu bukanlah Umar, bukan pula Shalahudin Al Ayyubi yang dicari. Yang patut dicari adalah hadirnya kepahlawanan kolektif. Satu generasi baru Shalahudin yang siap membebaskan ummat.

Bukan Shalahudin, Tapi Generasi Shalahuddin

Harapan pahlawan kolektif menjadi mentah dalam budaya milenarisme. Mengharapkan figur super untuk perubahan revolusioner. Sejarah pun sering dibajak dalam budaya ini. Sejarah seringkali hanya menonjolkan figuritas, tanpa memerhatikan aspek yang mempengaruhi figur tersebut. Shalahudin Al-Ayyubi adalah contoh nyata.

Dalam banyak biografi, seringkali Shalahudin Al Ayyubi hanya ditonjolkan karir politiknya yang cemerlang. Memulai dari jabatan wazir (konselor), Shalahudin lalu berhasil merebut Mesir dari dinasti fathimiyah. Sepeninggal Sultan Nuruddin, lalu Shalahudin mendeklarasikan diri sebagai Sultan Mesir untuk selanjutnya menghimpun kekuasaan di banyak wilayah muslim. Umat Muslim pun akhirnya bersatu, yang kemudian menjadi modal besar dalam merebut Palestina.

Shalahudin memang memenangkan kekuasaan politik, tapi melihat Shalahudin dari kacamata politik bukanlah sesuatu menarik. Apalah bedanya dengan Iskandar Agung yang merebut satu kekuasaan ke wilayah kekuasaan lain. Apa bedanya dengan Napoleon di Prancis yang sukses merebut tahta kekuasaan tertinggi. Walaupun Shalahudin merebutnya untuk tujuan yang mulia, tapi sejarah gagal menceritakan sebuah kenyataan dan proses penting yang harusnya ditonjolkan. Kenyataan bahwa perjuangan Shalahudin tidaklah sendiri, tapi buah kolektivitas generasi. Sejarah bahwa ada proses panjang yang dilalui sebelum lahirnya generasi Shalahudin. Proses panjang membangun institusi pendidikan berkualitas yang akhirnya menghasilkan generasi berkualitas pula, itulah generasi Shalahudin Al Ayyubi.

Kunci Kebangkitan Ummat

Jika kita menelusuri lebih komprehensif, akan banyak yang bisa kita ambil dari sejarah  perjuangan Shalahudin Al Ayyubi. Bagaimana memunculkan generasi yang tidak sekedar memenangkan banyak pertempuran, tapi juga terbangun sifat-sifat Islami di setiap rijalnya. Padahal jika kita tengok satu abad sebelum generasi Shalahudin muncul, kondisi umat di saat itu masih dilanda kerusakan. Bahkan Imam Al Ghazali menyebut umat di kala itu dengan sebutan “umat yang layak kalah” (qobiliyyat al hazimah).

Sejarahwan Islam klasik Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah Al-Nihayah, banyak menceritakan kerusakan yang terjadi dalam tubuh umat muslim. Diantara tahun 400-550 Hijriyah satu abad sebelum terbangun generasi shalahudin. Bagaimana diceritakan suasana permusuhan dalam tubuh internal umat muslim, akibat pertentangan mahzhab. Belum lagi wilayah Islam yang terpecah-pecah kewilayah kecil dalam semangat chauvinisme. Akhlak pemimpin juga rusak, bermegah-megahan, berpesta pora ditengah kemiskinan rakyat. Bahkan pemimpin dan masyarakatnya tak terketuk mendengar pembantaian pasukan salib terhadap kaum muslim di Palestina, Syria, dan Lebanon. Ketika dimintai bantuannya Khalifah malah berkata ”biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! Merpatiku, si balqa’ sudah tiga hari ini menghilang dan aku belum melihatnya” sungguh suatu ironi.

Sebuah sunnatullah kelahiran pemimpin ideal selalu terbentuk dalam sistem lingkungan pendidikan yang ideal pula. Lalu pertanyaan besar terbesit di benak kita, bagaimana mungkin di zaman kondisi umat yang mengalami kerusakan akut, bisa ada sistem pendidikan ideal? Bahkan satu abad kemudian justru melahirkan generasi emas Shalahuddin Al Ayyubi? 

Sejarah telah menyajikan narasi besar tentang kebangkitan umat. Perubahan dari kondisi “umat yang layak kalah” dalam sebutan Al Ghazali, hingga berubah derastis 180 derajat menjadi generasi emas perebut Palestina. Orang yang tak mengerti benar akan menyebutnya keajaiban, dan Shalahudin adalah pembawa keajaiban itu.

Sungguh tidak ada yang ajaib dalam kisah Shalahudin Al Ayyubi, tidak ada yang lahir secara tiba-tiba. Semua ada prosesnya, dan proses itu buah dari metode terapan. Di ketika metode itu ampuh membawa perubahan signifikan ditengah masyarakat, maka jadilah metode itu sebagai kunci perubahan. Sebuah metode yang dipraktekkan langsung oleh ulama manshur Al Imam Al Ghazali, dan terbukti membawa angin besar perubahan. Itulah metode yang kita sebut Al Insihab wa al ‘audah (menarik diri dan kemudian kembali) dan gerakan Islah (perbaikan).

Al Insihab atau menarik diri, bertujuan membersihkan kerancuan pemikiran dalam diri. Di zaman itu maraknya Aliran kebatinan, filsafat, fanatisme mazhab fiqh, dan tasawuf telah meracuni aqidah dan memecah belah persatuan. Al Ghazali menyadari hal ini, dan memilih jalan untuk menarik diri dari pusaran aktivitas sosial. Akan tetapi menarik diri bukan berpasrah diri dan lari dari masalah. Al Ghazali hanya ingin memurnikan kembali pemikirannya, mengembalikan pengetahuan pada akar aqidahnya, untuk selanjutnya kembali (al ‘audah), dan melakukan gerakan perubahan ditengah-tengah umat (al islah).

Kontekstualisasi di zaman ini (Bersambung)

No comments

Powered by Blogger.