Header Ads

Dari Gerakan Pemurnian Menuju Islah (2)

Kontekstualisasi di Zaman Kini


Pemurnian kembali pemikiran berarti kembali kepada fitrah akar keilmuan Islam. Kerancuan pemikiran yang melanda di saat itu persis apa yang dialami Indonesia saat ini. Apalagi tantangan semakin kompleks dengan masuknya arus pemikiran baru seperti sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (sipilis). Artinya pemurnian Ilmu pengetahuan menjadi sarat mutlak dalam penerapan metode al Insihab.

Jika Al Ghazali melakukan metode Al Insihab wa al ‘audah bersama rekannya –diantaranya Ibrahim Al-Jurjani dan Abu Qosim Al-Hakimi– yang juga qualified, maka gerakan masa kini juga harus hadir dalam bentuk kolektivitas ulama ad Diin yang qualified. Maka butuh wadah gerakan pemurnian bersama-sama, yang menjadi tempat bernaungnya ulama ad Diin yang unggul, bersih dan Ikhlas. Inilah urgensi hadirnya lembaga-lembaga pemikiran Islam dan menjadi mihwar awal dalam perbaikan. Tangga pertama yang harus dilalui sebelum memasuki mihwar selanjutnya. Dari mihwar Al Insihab wa al ‘audah menuju ke mihwar islah.

            Mihwar Islah adalah perwujudan nyata dari gerakan perbaikan. Jika gerakan pemikiran –dalam Al Insihab wa al ‘audah – menghasilkan ide dan nilai, maka gerakan Islah menghasilkan manusia dan karya. Jika gerakan pemikiran berperang melawan pemikiran yang bathil, maka gerakan Islah yang akan berperang melawan manusia dan sistem kemasyarakatan yang bathil pula.

Selanjutnya dalam Mihwar Islah ini ada dua bentuk gerakan didalamnya, yang pertama adalah gerakan islah dalam transformasi pengetahuan. Gerakan ini menghendaki pembentangan ilmu pengetahuan secara luas yang secara khusus dibebankan kepada ulama ad Dunyaa (ilmuwan). Dalam mihwar sebelumnya (Al Insihab wa al ‘audah) mewajibkan ulama Ad Diin menarik diri dan menata dasar ilmu Islam secara benar. Dasar ilmu Islam yang dimaksud seperti ulumul Qur’an, ulumul hadits, ushul fiqh, Ilmu tafsir, tarikh, dan ilmu kalam,. Ketika dasar ilmu Islam ini benar dan bebas dari kerancuan, maka akan menghasilkan cara pandang (worldview) yang benar pula. Apapun yang kita pandang dunia ini, hasilnya tak akan lepas dari kacamata Islam.

Memandang dunia “secara mendalam” dengan worldview Islam, berarti kita sedang melakukan aktivitas pengilmuan dunia (materi). Dan muncullah Ilmu dunia sebagai derivasi worldview Islam. Padahal worldview Islam sendiri mengharuskan dasar ilmu Islam terbentengi dari kerancuan pemikiran. Maka menjadi tugas ulama ad Diin “membentengi” Islam beserta worldview-nya, sedangkan tugas ulama ad-Dunyaa adalah mempergunakan worldview Islam untuk selanjutnya “membentangkan” Ilmu dunia seluas-luasnya. Maka gerakan transformasi pengetahuan ini adalah kisah dimana dijumpai kehebatan Ilmuwan fisika kita, ilmuwan tekhnik, kedokteran, ekonomi dan ilmuwan lainnya. Yang mereka tak pernah sedikitpun meninggalkan akar Islam dalam bangunan keilmuannya.

Gerakan kedua dalam mihwar islah adalah gerakan perjuangan sosial politik. Gerakan ini adalah perjuangan dimana Shalahudin Al Ayyubi juga pernah berdiri diatasnya. Gerakan yang akan menegakkan sistem Islam dalam struktur formal masyarakat. Gerakan yang akan memayungi kepentingan ummat. Gerakan yang cerdik bersiasat, dan taktis mengatur strategi menghadapi musuh. Maka penggeraknya haruslah seorang politisi yang handal seperti halnya Shalahudin Al Ayyubi. Mereka terus berjuang melawan realita lapangan yang menyimpan sejumlah problematika pelik.

Serupa dengan gerakan pertama, gerakan ini harus mengawali aktivitas pembacaan sosial politik (teori ataupun praktis) dalam kerangka  worldview Islam terlebih dahulu. Semua siasat dan strategi harus menjadikan Islam sebagai panglimanya. Karena dasarnya mereka adalah muslim sebelum politisi, maka kegiatan politik tak akan lepas dari worldview Islamnya.


Ulama Ad Diin dalam mihwar Al Insihab wa al ‘audah adalah pemegang kunci utama. Di zaman Al Ghozali, Ulama Ad Diin membentuk institusi pendidikan formal berupa madrasah yang integral. Mungkin tidak relevan di Indonesia saat ini, karena institusi pendidikan formal masih belum terpegang. Jalan keluarnya adalah lembaga pendidikan informal yang bergerak secara kultural. Adalah lembaga pemikiran Islam yang mengemban tugas ini. Secara kultural lembaga ini yang akan terus mentransfer Ilmu Islam dalam cara pandang yang lurus, hingga agen-agen baru terbentuk dan siap menjalankan misi Islah, transformasi pengetahuan dan gerakan sosial politik.

Pohon Peradaban

Memainkan peran KAMMI

Sungguh Allah telah memberikan jalan dalam sejarah diatas. Sejarah bagaimana Al Ghazali meletakkan batu bata awal, dan sejarah dimana generasi Shalahudin menggenapkan bangunan Islam lewat perjuangan politiknya. Pola-pola strategi kebangkitan umat yang sepatutnya bisa kita adopsi ditengah kerusakan Indonesia. Metode al Insihab dan Islah mungkin menjadi jalan yang bisa mengantar kita pada kebangkitan Islam.  Keadaan dimana negeri Muslim terbebaskan dan terhimpun dalam satu kesatuan.

Gerakan pemuda selayaknya menempatkan dirinya dalam arena perubahan diatas. Apakah menjadi ulama Ad Diin yang akan membersihkan hati, pemikirannya serta mengokohkan batang worldview Islam dalam pohon peradaban. Atau menjadi Ulama Ad Dunyaa yang akan menjadi agen pengembangan ilmu pengetahuan hingga daun-daun Ilmu semakin lebat dalam pohon peradaban. Atau mungkin menjadi Politisi yang setia menjadi polisi ummat, menjadi pagar yang akan melindungi pohon peradaban agar tetap bersemai. Suatu keharusan semua pos haruslah terisi, dan semuanya harus integral dalam satu ritme perjuangan. Tidak ada aksi kepahlawanan Individu, semua berjalan secara kolektif. Dimulai dari aktivitas belajar, mengajar, dan diakhiri dengan perjuangan, semuanya diniatkan untuk ridho Allah semata.

KAMMI sebagai bagian dalam entitas besar gerakan kepemudaan Indonesia, harus turut serta dalam perjuangan ini. Potensi besar KAMMI dalam sumber dayanya serta kelurusan manhaj perjuangannya harus benar-benar dioptimalkan. Paradigma gerakan telah menggariskan lahan perjuangan secara komprehensif. Paradigma dakwah tauhid misal, melegitimasi kader sebagai ulama ad Diin, yang memurnikan kerancuan pemikiran Islam kembali pada tauhid yang bersih. Paradigma Intelektual profetik (ulama ad Dunyaa) menjadi punggawa pengembang Ilmu pengetahuan yang berlandaskan ajaran kenabian. Dan yang terakhir aktivitas politik nilai yang dibawa kader KAMMI adalah bentuk pengamalan dari paradigma sosial Independen dan ekstra parlementer.

Paradigma KAMMI yang cukup komplet ini bukan alasan untuk bergerak individualistik. Kembali diulangi sungguh tidak ada guna aksi kepahlawanan individu. Sama hal KAMMI tak perlu dan tak seharusnya bermain sendiri. Justru KAMMI lah sangat mungkin mempelopori gerakan pemuda dalam barisan yang padu. Membangun suatu gerakan peradaban hingga Izzal Islam Wal Muslimin telah kembali ditangan kita. Wallahu ‘alan bish showab 

No comments

Powered by Blogger.