Header Ads

Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni; Meluruskan Anomali Pengamalan Pancasila

Mendengar istilah Pancasila mungkin masyarakat banyak yang tahu, tetapi jika yang ditanyakan tentang makna atau lebih jauh sampai pengamalannya, maka gampang ditebak, hanya segilintir orang yang tahu dan paham betul. Setidaknya inilah gambaran didapat lembaga-lembaga survei yang menemukan fakta kemerosotan pengetahuan masyarakat terhadap dasar negara-nya Pancasila. Sebuah ironi mengemuka, ada apa gerangan masyarakat Indonesia? Pantas saja badai masalah yang melanda bangsa ini sulit menemukan titik temu jika kita tetap "pongah" enggan kembali ke nilai luhur falsafah bangsa yang telah dirumuskan founding father kita.

Tanggal 1 juni ini kita merayakan hari lahir Pancasila yang ke 66, hampir seusia dengan bangsa ini. Kebanggaan begitu menghiasi perasaan kita. Seakan-akan kita telah berjuang dan berkorban banyak untuk eksistensi Pancasila. Tapi sebelum itu maukah kita merenungi dan menatap realitas yang ada. Jika kita jujur dan mau membuka mata selebar-lebarnya maka harusnya kita malu. Malu kepada founding father kita, malu terhadap nilai-nilai luhur Pancasila.

    Lalu ada yang bertanya kenapa kita harus malu? Toh nyatanya pancasila masih bertahan sampai sekarang dan masyarakatpun mayoritas masih mempercayai pancasila sebagai dasar negara, lalu apa yang salah? Tidak sadarkah kita, para pendiri bangsa ini tidak pernah main-main dengan rumusan dasar negara ini. Mereka bukan hanya membuat simbol-simbol tanpa arti sekedar memenuhi sarat sebuah negara. Mereka telah merumuskan sebuah falsafah yang memenuhi karakter dan jiwa bangsa ini, yang harusnya menjadi pedoman kita bernegara. Lalu apakah kita telah melaksanakannya? Tidak, sama sekali tidak. Kita hanya tertarik mengangkat simbolnya saja, lalu memendam ajaran dikandungnya. Kita lebih senang menjadikan Pancasila penghias dinding-dinding rumah kita, atau mungkin sebatas alat pemuas syahwat politik.

    Mungkin ada yang tidak berkenan dengan statement diatas, merasa pancasila telah diamalkan dengan baik. Mereka yang menutup mata tentu akan menganggap tidak ada anomali pengamalan pancasila. Coba kita renungkan fenomena yang terjadi, contohlah hukum di Indonesia yang tebang pilih antara si kaya dan si miskin. Kita tahu bagaimana nasib Anggodo koruptor kelas kakap, dibandingkan dengan Mbok Minah nenek miskin yang divonis bersalah karena mencuri 3 kakao. Itukah disebut keadilan? Belum lagi pelanggaran HAM di banyak kasus dan kejadian, apakah ini cerminan dari nilai pancasila bab Kemanusiaan yang adil dan beradab? Bahkan pernah di tahun 2003 sekelompok orang mengatasnamakan pancasila malah dengan bengis merusak kantor LSM Kontras yang justru telah banyak memperjuangkan kemanusiaan.

    Tidak cukup disitu pengkhianatan kita terhadap nilai Pancasila, lihatlah kesenjangan ekonomi yang terjadi akibat penerapan ekonomi neo-liberal. Satu sisi banyak yang berpenghasilan miris kurang dari 500 ribu, tapi di sisi lain segelintir orang bahkan ada petinggi partai punya jumlah kekayaan sampai 70 triliun. Coba bayangkan, apakah ini yang disebut keadilan sosial untuk rakyat? Seakan kita lupa dengan ekonomi pancasila yang pernah di cetuskan bersama. Ditambah lagi dengan degradasi moral yang dasyat akibat kedangkalan pemahaman Agama. Lalu apa artinya Ketuhanan Yang Maha Esa jikalau kita lupa dengan ajaran Agama kita? Satu ironi Pancasila kembali.

    Melihat realitas diatas masih beranikah kita mengklaim sebagai seorang Pancasilais? Dengan hanya mendasari pada kenyataan Pancasila masih tetap eksis sebagai dasar negara, lalu cukupkah hanya dengan eksistensi? Apa gunanya punya dasar negara jika tidak kita hayati dan amalkan ajarannya secara benar. Apa kita ingin seperti di zaman Orde baru yang menggembar-gemborkan pancasila di mulut tapi menenggelamkan ajaran Pancasila pada prakteknya. Ibarat setangkai bunga yang mewangi harum kala di hirup, tapi pahit ketika dimakan. Itulah Pancasila yang hanya menonjolkan eksistensi dan simbol-simbol. Sungguh tidak ada eksistensi tanpa kontribusi. Ketika Pancasila gagal memberikan kontribusi, artinya Pancasila sudah tidak eksis lagi pada hakekatnya. Inilah yang selama ini terjadi.

    Dari kenyataan diatas marilah bersama seluruh elemen masyarakat, untuk bersama kita pahami dan amalkan ajaran Pancasila secara benar. Janganlah kita merasa puas dan cukup dengan manifesto Pancasila yang dangkal seperti saat ini, atau memahami Pancasila terlalu sempit. Jangan juga masyarakat Indonesia yang mayoritas umat muslim, menjadi kontraproduktif dengan mempertentangkan Islam dan Pancasila yang sebenarnya tidak ada pertentangan. Memperingati hari lahir Pancasila 1 juni yang baru pertama kali kita peringati secara resmi, adalah momentum yang tepat. Inilah saatnya kita mengembalikan nilai-nilai luhur Pancasila hingga mampu mendorong kemajuan bangsa. (Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, aktivis KAMMI, dan tercatat sebagai Santri Pondok Pesantren Budi Mulia)

No comments

Powered by Blogger.