Header Ads

Darimana Kita Menangkal Terorisme?

Ketika peristiwa bom Bali I bergulir 2002, Beragam respon mengemuka ditengah masyarakat, terutama sorotannya terhadap Umat Muslim. Umat disibukkan mempertahankan diri dan menolak tuduhan yang mengarah kepada mereka. Berbagai  argumentasi diajukan untuk menghilangkan  tuduhan dan menghapus stigma negative tersebut. Mulai dari kemungkinan adanya konspirasi barat, operasi intelijen, sampai pada pengaitannya dengan pergulatan politik yang hangat di Indonesia.

                Akan tetapi Semuanya menjadi buyar, saat amrozi cs serta merta mengakui keterlibatannya dalam sejumlah aksi peledakan. Sontak saja umat dibuat kelimpungan, terpaksa memakan ludahnya sendiri. Fakta lapangan telah jelas-jelas mengarahkan para pelaku ini berasal dari kalangan Islam. Amrozi, Imam Samudra, Muchlas, adalah para “alumnus” mujahid Afghanistan yang pastinya tidak diragukan lagi afiliasinya terhadap Islam.

                Berbagai motif diungkap dari para pelaku pengeboman ini. Secara jujur Imam Samudra menuturkan motif aksinya sebagai tindakan balas dendam terhadap Amerika dan sekutunya. Baginya tindakannya tidaklah sepadan dengan pembantaian orang-orang Islam di berbagai tempat seperti Afghanistan, Palestina, dan cheznya.

                Ada sebuah dilema tersendiri yang dirasakan Umat Islam dan termasuk juga yang dirasakan penulis sendiri. Satu sisi tindakan para “bomber” yang menghilangkan banyak nyawa tak bersalah, membuat kita meradang dan otomatis mengutuknya. Akan tetapi disisi lain, ungkapan tulus Imam Samudra dkk terkadang memunculkan sinkronisasi emosi yang paralel dengan kita sebagai sesama muslim. Bahwa umat Islam sedang ditindas, dijajah, dibantai di berbagai tempat. Maka dengan pretensi seperti itu, timbul perasaan pembenaran terhadap teror sebagai aksi pembalasan.

                Dititik situlah kita kehilangan kejernihan akal pikiran, dan bahkan kelurusan hati kita. Kecenderungan kita dalam wilayah emosi, tanpa ditopang akal yang jernih dan hati yang lurus, hanya akan membawa kita pada tindakan yang emosional pula. Sebagai orang beriman kita dituntut punya rasa emosi (nafsu) dalam pembelaan umat. Tapi jika tak dikontrol, emosi tadi akan menjelma menjadi syahwat yang berbahaya.

                 Tertangkapnya sejumlah pelaku terorisme hingga para petinggi utama seperti Dr. Azhari, Noordin M Top, dan Hambali ternyata tidak menyelesaikan apa-apa. Aksi bernada terorisme masih saja terjadi. Karena memang bukanlah itu akar masalahnya. Seperti apa yang disebutkan diatas, ada gejala kuat sinkronisasi emosi para pelaku teroris yang paralel terhadap sejumlah eksponen muslim. Ini berpotensi mengembangbiakkan embrio dan sel-sel baru dalam jaringan terorisme. Maka kini bukanlah kelompok Jamaah Islamiyah yang bergerak, tapi virus model pemikiran mereka yang menyebar. Jamaah Islamiyah memang telah mati, tapi gaya pemikiran mereka tetap hidup dan eksis di dalam pikiran sebagian umat kita.

                Tak kaget jika belakangan ini bermunculan pelaku terorisme yang tak jelas asalnya. Mereka bukan bagian dari jaringan teroris nasional apalagi jaringan internasional. Mereka hanyalah orang biasa yang simpatik dengan perjuangan Amrozi dkk. Kesemuanya karena kita gagal mengantisipasi menyebarnya pemikiran keliru para perilaku teroris. Pemikiran yang mengedepankan emosional dan segala macam yang instan. Tak lagi ada pemikiran rasional yang mampu melahirkan tindakan yang cerdas dan strategis. Maka yang lahir dari mereka tidak lebih dari tindakan ekstrem (ghuluw) layaknya saat ini.

                Kita tidak sedang bicara siapa yang menanam dan memupuk bibit terorisme. Apakah memang murni sebuah gerakan perlawanan yang lahir dari rahim umat Islam, atau seperti yang dipersangkakan orang adanya keterlibatan barat dalam pemunculannya. Tapi satu yang pasti, kesalahan berpikir yang berujung pada tindakan teror memang nyata-nyata terjadi.

       Dari situ treatment kita harusnya bukan lagi sebatas melacak geneologi terorisme kontemporer. Identifikasi geneologi hanyalah modal awal saja. Paling penting saat ini kita menyelami model pemikiran mereka agar mampu melakukan counter pemikiran. Membongkar hujjah-hujjah mereka yang mengotori kemurnian ajaran Islam.

           Berbagai terminologi dan perangkat manhaj Islam sering dijadikan fondasi mereka dalam bergerak. Diantaranya tentang Jihad, takfir dan Tahkim.  Dari pemahaman yang salah tentang terminologi ini akhirnya termanifes dalam tindakan teror, pembunuhan, bahkan sampai perampokan. Fasadat (kerusakan) yang besar dari terorisme ini paling dominan bersumber dari buah pemikran keagamaan yang ekstrem dan menyimpang. Maka dari itu perlulah kita meluruskan kembali berbagai ajaran Islam yang dicatut serampangan, dan mengembalikannya pada pemahaman yang benar.


No comments

Powered by Blogger.