Header Ads

PARADIGMA PENGETAHUAN


Manusia dan Pengetahuan
   Seorang Filsuf ternama Aristoteles mengartikan manusia salah satunya sebagai hewan yang berakal (animal rasio).[1] Artinya menurut Aristoteles yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal fikirannya. Dalam penciptaannya manusia diberikan anugrah akal fikiran agar mampu memaknai hidupnya dan lingkungannya secara tepat. Ketika manusia melakukan aktivitas pemaknaan, ketika itu pula manusia merasakan eksistensi dirinya dan lingkungannya. Maka disinilah titik tolak mengapa René Descartes seorang filsuf Prancis mengatakan, “aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum).[2] Eksistensi manusia ada karena dimaknai, manusia mampu memaknai karena dia melalui proses berfikir.

                Diri dan lingkungan manusia adalah realitas yang tertampak (visible). Ketika realitas itu dimaknai manusia dalam proses berfikir, maka manusia berpotensi menyingkap hakikat yang terkandung dalam realitas itu, dimensi visible sekaligus yang invisible. Ialah nilai kebaikan, kebenaran, dan keindahan, atau beberapa filosof menambahkan nilai pemujaan (religion) adalah hakikat dibalik realitas. Disinilah manusia mengawali aktivitas ilmiahnya, mencari tahu hakikat realitas, hingga mengkristal dalam suatu pengetahuan baru.
Penyingkapan realitas diatas, menemukan sejumlah pengetahuan baru tentang karakter dasar manusia dan alam lingkungannya. Pengetahuan bahwa manusia sebagai makhluk biologis, mahluk sosial, mahluk ekonomi, juga mahluk politik. Pengetahuan tentang alam raya, hewan, tumbuhan, bumi, dan angkasa. Manusia mencari tahu tentang segalanya. Selain didorong karena tabiat manusia yang mempunyai rasa ingin tahu, lebih dari itu sesuatu yang paling prioritas bagi manusia adalah dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

                Perjalanan hidup manusia dalam ruang dan waktu yang bergerak bukanlah sesuatu yang statis.   Kebutuhan mendasar manusia untuk mempertahankan hidupnya, mengharuskan dirinya berinteraksi dengan manusia lain dan alam lingkungannya. Lalu dari sini mulai bermunculan permasalahan dialami manusia. Benturan dengan manusia lainnya juga benturan dengan alam tak terhindarkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia yang dihadapkan pada permasalahan ini dipaksa untuk kembali melakukan aktivitas berfikir. Akan tetapi bukan lagi sekedar untuk mengidentifikasi eksistensi keberadaan manusia, tapi lebih lanjut manusia berfikir untuk menjaga eksistensi keberlangsungan hidupnya.

Maka disinilah esensi hadirnya penelitian Ilmiah. Selain untuk mencari fakta dan kebenaran ilmiah, penelitian lebih diharapkan sebagai alat pemecahan masalah untuk keberlangsungan hidup manusia. Senada dengan itu, Kun Maryati juga mengartikan penelitian sebagai suatu proses yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mendapatkan pemecahan masalah.[3]

Telaah Paradigma Pengetahuan

                Berangkat dari realitas, hingga terbuka satu demi satu pengetahuan ilmiah yang teruji kebenarannya (aksioma). Maka aktivitas ini secara gradual atau secara akumulatif (terstruktur), akan berpotensi membentuk pola baru tentang satu keyakinan mendasar dalam memahami realitas, atau yang biasa disebut dengan paradigma. Dalam pohon pengetahuan ilmiah Nyoman N Sujana menempatkan paradigma sebagai unsur tertinggi dalam pengetahuan ilmiah.[4] Setelah teori yang terbukti dan teruji lama menjadi dalil. Setelahnya dalil ini lalu dipercaya oleh banyak orang sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantahkan lagi, maka terbentuklah aksioma. Kumpulan aksioma ini yang akan membentuk struktur puncak dalam pengetahuan, membentuk pola keyakinan dasar yang  menjiwai manusia (baca: peneliti) dalam aktivitas ilmiahnya. Itulah paradigma yang menjadi contoh (exemplar) dan panduan manusia untuk berfikir (thinking) dan menalar (reasoning) berbagai realitas.

                Berbagai definisi paradigma pernah diungkap banyak ilmuwan. Tapi definisi dari Thomas Kuhn lebih layak dikedepankan, mengingat Kuhn lah yang pertama kali memperkenalkan istilah paradigma dalam dunia ilmiah. Secara garis besar Kuhn dalam bukunya The structure of scientific revolution mengartikan paradigma sebagai percontohan (exemplar), model, representative, tipikal, karakteristik, atau ilustrasi dari solusi permasalahan atau pencapaian dari bidang ilmu pengetahuan.[5] Liek Wilardjo menjelaskan yang dimaksud percontohan atau model disini adalah sesuatu yang digunakan ilmuwan untuk menentukan jenis-jenis persoalan yang perlu digarap, dengan metode apa dan melalui prosedur bagaimana penggarapan itu harus dilakukan.[6] Pengertian lain disampaikan oleh Guba, mengartikan paradigma adalah semacam seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar, yang menuntut seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. [7]

Kuhn menyebutnya sebagai model, lalu Guba mempertajam model disini sebagai kepercayaan dan keyakinan dasar. Kuhn mengkhususkan paradigma untuk kalangan Ilmuwan, sedangkan Guba melihat paradigma lebih luas dapat digunakan setiap orang. Paradigma bagi Guba bukan hanya untuk berfikir tapi lebih jauh panduan untuk bertindak. Definisi dari Guba ini mendekati dan mungkin sama dengan pengertian dari ideologi atau bahkan dengan agama. Sama-sama menjadi keyakinan dasar, sama-sama menjadi panduan dalam tindakan sehari-hari. Mungkin yang membedakan adalah ketiadaan cita-cita besar tentang kehidupan seperti yang dimiliki ideologi dan agama. Ini yang membuat paradigma terkesan pasif sedang ideologi dan agama lebih terkesan aktif. Paradigma menyediakan model berfikir dan bertindak dalam kerangka aksiomatik, sedangkan ideologi dan agama menyediakan model berfikir dan bertindak dalam kerangka aksiomatik sekaligus sebagai jalan menuju cita-cita besarnya.

Berbicara tentang ideologi dan agama sangat identik dengan seperangkat nilai ideal. Lalu setelah melihat kesenjangan antara idealita dan realita, mulailah ideologi dan agama tadi mengidentifikasikan masalah, dan mencari pemecahannya. Maka seharusnya seperti inilah paradigma pengetahuan menempatkan diri, sebagai problem solving. Hal ini senada dengan pendapat Scott memandang paradigma. Dikatakan bahwa paradigma merupakan pencapaian baru (pengetahuan) dan kemudian diterima sebagai cara pemecahan masalah.[8]

Beberapa paragraf terakhir diatas adalah sedikit pendapat subjektif penulis tentang model paradigma ideal. Dan masih banyak lagi pandangan tentang paradigma lainnya dengan perspektif berbeda. Untuk lebih komprehensif menjelaskan paradigma pengetahuan/penelitian, akan diuraikan berbagai model paradigma yang paling populer dan paling signifikan penganutnya. Ada empat paradigma besar,  yaitu Paradigma Positivisme, Post Positivisme, Teori Kritis, dan terakhir Paradigma Konstruktivisme. Atau bahkan bisa saja merumuskan paradigma alternatif baru dari keempat paradigma yang sudah ada.

Next --> Kritik Berbagai Model Paradigma


[1] Snijder, Adelbert, 2010, Manusia dan Kebenaran; Sebuah Filsafat Pengetahuan, Kanisius. Yogyakarta. hal. 46
[2] Tjahjadi, Simon PL, 2004, Petualangan Intelektual, Kanisius. Yogyakarta. hal. 206
[3] Maryati, Kun dan Suryawati, Juju, 2001, Sosiologi, Penerbit Erlangga. Jakarta. hal. 97
[4] Suyanto, Bagong dan Sutinah, 2007, Metode Penelitian Sosial, 2007, Kencana. Jakarta. hal. 8-9
[5] Anwar, Yesmil, dan Adang, 2008, Pengantar Sosiologi Hukum, Grasindo. Jakarta hal. 42
[6] Ibid. hal. 37
[7] Ego, G Guba, 1990, The Paradigm Dialog, Sage Publication. California. hal. 17
[8] Anwar, Yesmil, dan Adang, 2008, Pengantar Sosiologi Hukum, Grasindo. Jakarta hal. 42

No comments

Powered by Blogger.