Jamaah; Jalan Tunggal Menegakkan Islam
![]() |
| Khalifah Muhammad Al Fatih Shalat Jamaah sebelum menaklukan Kontantinopel |
Mengamati sikap umat muslim dewasa ini mungkin akan terasa ganjil. Perasaan inferior dalam pergaulan global, begitu memuja kemajuan barat. Diakui atau tidak memang itulah yang terjadi dikebanyakan pribadi muslim saat ini.
Mengapa disebut ganjil? Karena tidak sepantasnya agama yang diridhoi Allah sebagai satu-satunya agama yang haq menjadi inferior terhadap peradaban dunia. Tidak sepantasnya agama yang mengembalikan fitrah manusia kepada tauhid, lalu mendapat stigmatisasi buruk dimata dunia.
Tidak sepantasnya agama yang telah menjadi sumber pencerahan peradaban barat, kini justru menemui pemeluknya hanya menjadi “pesuruh” orang – orang barat.
Pengkiblatan dunia Islam terhadap barat hanya dikarenakan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi adalah tindakan keliru. Sebuah tindakan yang harus dibayar mahal dengan bergesernya tatanan nilai Islam dan cara pandang umat Islam terhadap dunia (Worldview).
Munculnya pikiran dan sikap materialisme, individualisme, empirisme, bahkan lebih jauh dekonstruksi terhadap kita suci yang selama ini begitu disakralkan adalah konsekuensi logis. Ibaratnya umat muslim kini seperti tengah menggadaikan agamanya untuk perhiasan dunia.
Bertolak Dari Jatuhnya Turki Utsmani
![]() |
Keruntuhan kekhalifahan terakir Turki Utsmani pada tahun 1924 di respon kencang oleh para
pemimpin Islam dunia. Kebanyakan menyesalkan dan menganggapnya pertanda buruk bagi dunia Islam kedepan.
Dan memang bukan isapan jempol, dunia Islam semenjak itu semakin terseok-seok dalam perpecahan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Walaupun sebenarnya tanda-tanda kejatuhan supremasi politik Islam sudah tercium jauh-jauh hari sebelum jatuhnya kekhalifahan Utsmani.
Para pemikir Islam seperti Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridho, Muhammad Abduh di mesir dan Dr. Muhammad Iqbal di India sudah mewanti-wanti kemerosotan politik Islam. Para pemikir itu bahkan menyadari kemerosotan politik Islam adalah sesuatu yang tak terelakkan.
Sesuatu yang sulit dicegah secara politis, karena kemerosotan itu disebabkan oleh demoralisasi diberbagai bidang kehidupan muslim, seperti akidah, akhlaq, dan pemikiran.[1] Maka perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam wajib dilakukan umat muslim dewasa ini.
Para pemikir diatas juga melakukannya dan melihat titik tolak tolak perjuangan mereka adalah perjuangan mendidik dan membina pribadi muslim yang disiapkan menjadi annasirut-taghyir (agen perubahan).
Perjuangan yang dilakukan umat muslim tentu harus menempatkan Islam sebagai satu-satunya alternatif landasan perjuangan. Maka menegakkan kalimatullah dimuka bumi menjadi pokok dalam perjuangan , sehingga tidak ada lagi fitnah terhadap agama Allah. Sesuai firman Allah:
”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan” (QS. 8:39)
Jamaah Sebagai Sarana Perjuangan
![]() |
Menurut bahasa jamaah dapat diartikan dengan: Sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama.[2] Sedangkan dalam tinjauan syariat, banyak definisi dari jamaah.
Imam Syatibi setelah menyimpulkan berbagai hadits menyebutkan lima pengertian dari jamaah. Tapi pada intinya jamaah disimpulkan pengertiannya sebagai masyarakat umum dan penganut Islam apabila bersepakat pada suatu perkara.
Sedangkan istilah Jamaatul muslimin lebih spesifik lagi, yakni dalam kondisi apabila terjadi kesepakatan pada suatu perkara yakni dalam pembai’atan amir.
Mengapa Memerlukan Jamaah?
Adalah sebuah sunatullah perjuangan menegakkan diin tidak bisa dilakukan sendirian. Rasulullah SAW pun menyadari bahwa tugas penyampaian risalah tidak dapat dilakukan satu orang manusia, tapi memerlukan satu jamaah yang kuat yang akan menerapkannya pada dirinya kemudian pada segenap alam.Rasulullah menyadari hal itu setelah mempelajari perjalanan nabi-nabi terdahulu. Sabda Nabi dari riwayat Muslim dan Ibnu Abbas ra.
“Diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu, lalu aku lihat seorang nabi bersama kaumnya dan ada pula seorang nabi yang tidak disertai seorangpun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sejumlah besar manusia, lalu aku mengira bahwa mereka adalah umatku."
"Lalu dikatakan kepadaku, “(mereka) ini adalah Musa dan umatnya.” Tetapi lihatlah keujung sana.” Lalu aku melihatnya, dan tiba-tiba terlihat sejumlah besar manusia, lalu dikatakan kepadaku,” (mereka) ini adalah umatmu.”
Digambarkan oleh Hussain bin Muhammad, nabi yang diterima dakwahnya oleh umatnya dan membentuk suatu jamaah, berkembang dan kekal dakwahnya selama yang dikehendaki Allah.
Ketika dihari kebangkitan jamaah ini akan dikumpulkan mengikuti nabinya dalam suatu bentuk yang indah. Tetapi nabi yang tidak mendapatkan sambutan yang baik dari umatnya, akan dibangkitkan tanpa seorang pengikut pun, namun ia seorang diri adalah satu umat.
Rasulullah SAW menyatakan secara implisit bahwa jamaah inilah yang akan menentukan eksis atau tidaknya dakwah Islam. Pada waktu perang badar beliau menghadap kiblat, kemudian berdoa kepada Rabb-nya:
“ Ya Allah, jika kelompok[3] dari orang-orang Islam ini hancur, maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi.” Doa Rasulullah SAW ini menjelaskan bahwa kelompok (jamaah) Muhammad SAW adalah kelompok Nabi yang terakhir.
Jika kelompok sudah dibina selama lima belas tahun di mekah dan madinah ini hancur dalam perang, maka tidak tersisa lagi manusia yang menyembah Allah dengan syariat yang benar.
“Wahai masyarakat Arab, tidak ada Islam kecuali dengan Jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada pemimpin kecuali dengan ketaatan.” (Umar bin Khattab)
Para pemikir Islam di zaman ini juga menyadari arti penting suatu jamaah, berikut beberapa komentar mereka menanggapi hal tersebut. Ustadz al-Maududi berkata, “Diantara sunatullah diatas bumi ini ialah, bahwa dakwah (Islam) ini harus diperjuangkan oleh orang-orang yang senatiasa memelihara dan mengatur urusannya.”
Ustadz Hasan al-Banna mengatakan, “Dakwah ini wajib dibawa oleh suatu jamaah yang mempercayainya dan berjihad didalamnya.”Ustadz Sayyid Quthb berkata, “Bagaimana proses kebangkitan Islam dimulai? Sesungguhnya ia memerlukan kepada golongan perintis yang menegakkan kewajiban ini.”
Ustadz Sa’id Hawwa berkata, “Satu-satunya penyelesaian ialah harus tegak jamaah.” Ustadz Fathi Yakan berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah sama sekali mengandalkan kepada kerja individual (infiradi) , tetapi sejak awal beliau telah menganjurkan penegakkan jamaah.”
Jamaatul Muslimin Sebagai Tujuan
Jamaatul Muslimin mempunyai kedudukan yang mulia dalam syariat Islam. Ia merupakan ikatan yang kokoh yang bila ia hancur akan hancur pula ikatan-ikatan Islam lainnya, pasif hukum-hukumnya, hilang syiar-syiarnya, dan berpecah belah umatnya seperti buih.
Jamaah ini adalah jamaah yang diperintahkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah untuk dijaga, dipelihara kesatuannya, dilindungi keutuhannya, dan dicegah dari setiap ancaman dan rongrongan yang akan merusaknya. Firman Allah:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron:103)
Dalam beberapa nash AlQur’an dan hadits juga menekankan kewajiban menegakkan jamaah dalam kehidupan umat. Sekaligus menjelaskan bahwa surutnya Jamaatul Muslimin dari kepemimpinan umat akan menimbulkan perpecahan, kehinaan dan kenestapaan di dunia dan akhirat.[4]
Lalu pertanyaannya adakah Jamaatul Muslimin saat ini? Dalam pengertian syar’i yakni ketika seluruh umat muslim menyepakati dan membai’at satu amir dan satu jamaah, maka jelas Jamaatul Muslimin belum hadir sempat sampai dewasa ini.
Buktinya sampai saat ini tidak ada pemerintahan Islam yang satu. Jamaah yang ada sekarang adalah jamaah dari sebagian kaum muslimin (Jamaatun min Jamaatil Muslimin). Seperti Jamaah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Indonesia, atau Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh di tataran global.
Jamaah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Indonesia, atau Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh di tataran global adalah Jamaatun min Jamaatil Muslimin.
Mengingat kewajiban untuk mewujudkan jamaatul muslimin, tentu jamaah yang sifatnya parsial dalam perjuangannya harus diarahkan pada tujuan menegakkan Jamaatil Muslimin yang sebenarnya.
Tentu berbagai Jamaah ini harus terus memperbaiki manhaj gerakan mereka sesuai dengan manhaj yang dibawa nabi dan sahabat, terutama dalam hal-hal yang ushul. Selebihnya dalam metode adalah wilayah ijtihad masing-masing.
Prinsipnya adalah saling bekerja sama dalam persamaan dan saling toleransi dalam perbedaan, hingga sinergitas dan efektifitas dalam mencapai Jamaatul Muslimin dapat tercapai.
[1] Al Jufri, salim Segaf dalam kata pengantar Buku Menuju Jamaatul Muslimin, Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir. Robbani Press. Jakarta: 2005
[2] Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir . “Menuju Jamaatul Muslimin”. Robbani Press. Jakarta: 2005
[3] Abduk baqi Ali Muslim berkata: Al Ishobah yakni jamaah
[4] Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir . “Menuju Jamaatul Muslimin”. Robbani Press. Jakarta: 2005




No comments