Budaya Kepakaran dalam Keilmuan
Eksistensi sebuah gerakan tentu tidak hanya dapat diukur dari pengamatan kondisi kekinian atau sekedar membanggakan catatan histori belaka. Gerakan harus mampu membaca peluang dan tantangan masa depan. Maka model berfikir dan analisa futuristik-lah yang menjadi kunci KAMMI sebagai sebuah gerakan tetap mampu melaju dalam track-nya. Tradisi keilmuan KAMMI yang melahirkan para intelektual Profetik diharap mampu menjadi agen pembangun peradaban Islam disaatnya nanti. Lalu pertanyaannya tradisi keilmuan seperti apa yang harus di kembangkan oleh KAMMI agar mampu melahirkan intelektual muslim yang handal? Yang pertama jelas yang menjadi landasan awal kita adalah pada wilayah paradigma keilmuan. Pengaruh cengkraman filsafat barat yang sangat besar dalam pendidikan di Indonesia mengharuskan KAMMI lebih serius menjaga fikroh kadernya. Syekh Al-Attas memperingatkan kita dalam bukunya Risalah.
“akar masalah yang sedang kita hadapi ini sesungguhnya terletak pada masalah disekitar pengertian ilmu. Akal pikiran kita telah diliputi oleh masalah sifat dan tujuan ilmu yang salah…orang Islam telah terpedaya dan secara tidak sadar telah menerima pengertian ilmu yang dianggap sama dengan pengertian kebudayaan Barat. (Al-Attas).
Ancaman yang tanpa sadar telah banyak merasuki akal dan jiwa kita. Ghawzul fikr memang ancaman, fenomena yang sangat mungkin bisa melanda seorang kader KAMMI sekalipun (pernah dengan Ikhwan kiri?). Maka menu wajib dan harus mengakar kuat dalam setiap kader KAMMI adalah dengan menanamkan paradigma keilmuan Islam secara utuh dan komprehensif.
“akar masalah yang sedang kita hadapi ini sesungguhnya terletak pada masalah disekitar pengertian ilmu. Akal pikiran kita telah diliputi oleh masalah sifat dan tujuan ilmu yang salah…orang Islam telah terpedaya dan secara tidak sadar telah menerima pengertian ilmu yang dianggap sama dengan pengertian kebudayaan Barat. (Al-Attas).
Ancaman yang tanpa sadar telah banyak merasuki akal dan jiwa kita. Ghawzul fikr memang ancaman, fenomena yang sangat mungkin bisa melanda seorang kader KAMMI sekalipun (pernah dengan Ikhwan kiri?). Maka menu wajib dan harus mengakar kuat dalam setiap kader KAMMI adalah dengan menanamkan paradigma keilmuan Islam secara utuh dan komprehensif.
Yang kedua adalah bagaimana KAMMI mampu menumbuhkan budaya kepakaran dalam tradisi keilmuannya. Satu poin penting yang mungkin kurang menjadi perhatian kita selama ini. Padahal Kepakaran adalah salah satu poin bagi Kader KAMMI dala pemenuhan IJDK. Seorang Kader KAMMI memang harus mempunyai wawasan yang luas (Mitsaqqoful fikri), yang dengannya kader dapat berdikari sendiri dalam memposisikan diri terhadap sebuah wacana. Tapi apa seorang kader cukup hanya dengan mempunyai posisi (standing poin) terhadap wacana? Tidak! Kader KAMMI harus berkarakter solutif, kader harus menjadi bagian dari solusi ummat dan bangsa. Wawasan yang luas biasanya adalah pemahaman bidang keilmuan dalam tataran permukaan saja. Akan kesulitan jika kader dituntut memberikan solusi atas permasalahan dengan sebuah konstruk ilmiah yang mendalam. Maka daripada itu perlulah ditumbuhkan kader KAMMI yang punya wawasan yang luas sekaligus juga memiliki kepakaran pada bidang keilmuan tertentu.
Urgensi dan Manfaat Mengembangkan Kepakaran
Ø Sumbangsih Ilmu untuk Umat
Kebodohan (Jahil) yang melanda umat Islam hari ini sejatinya adalah sumber dari berbagai permasalahan yang lainnya. Semisal masalah kemiskinan, degradasi akhlak dan moralitas, takluk pada musuh Islam, taklid buta tanpa ilmu, dan masih banyak yang lainnya. Maka tidak salah jihad kita dalam bidang keilmuan ini akan memberikan sumbangsih besar dalam kebangkitan umat, khususnya di Indonesia. Kepakaran kita dalam bidang pertanian misal, tentu akan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanian kita, atau di contoh lain di bidang hukum ketika kader fasih berbicara bagaimana strategi memberantas korupsi. Dari semua bidang ini lalu akan terakumulasi dalam sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya, dan ini akan menjadi sumbangan besar bagi masyarakat.
Ø Merekonstruksi Pendidikan Indonesia sesuai worldview Islam
Inilah tantangan dan peluang kita ketika kita mampu menumbuhkan benih-benih kepakaran itu sebagai bagian dari strategi perjuangan KAMMI. Pendidikan barat (baca;sekuler) yang di amini di kebanyakan institusi pendidikan di Indonesia adalah tantangan bagi kita untuk merubahnya dengan membudayakan kepakaran di dalamnya. Ketika kepakaran kader terhadap suatu bidang ilmu terbentuk, ditambah lagi dengan filosofi keilmuan Islam yang mengakar kuat tentu ini akan berubah menjadi peluang bagi KAMMI merubah konstruk pendidikan sekuler yang berlaku. Mengfungsikan worldview Islam dalam memandang banyak hal termasuk juga dalam keilmuan dari sini akan bisa terealisir.
Ø Strategi Pencitraan Organisasi
Ada yang bertanya apa yang membedakan orang yang satu dengan yang lain? Apa yang membuat orang menjadi dihargai? Apakah karena hartanya? Tahta dan jabatannya? Tentu sebagai muslim tidaklah itu jawabannya. Yang membedakan adalah Ketaqwaan dan Ilmu seseorang yang akan menaikkan derajatnya di antara manusia yang lain.
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah, 11).
Begitu juga jika kita analogikan dalam dunia gerakan, maka tingkat keilmuan dan kepakarannya lah yang akan menaikkan derajat diantara gerakan yang lain. Ini akan mampu juga meningkatkan pamor dan citra kita diantara gerakan yang lain.
Strategi Pengembangan
Melalui instrument Dauroh
Dalam pengembangan dauroh yang terkait dengan penguatan kapasitas kepakaran, mungkin akan diperlukan suplemen baru. Dauroh yang bertemakan bidang keilmuan yang spesifik menjadi keniscayaan untuk direalisasikan. Semisal seperti Dauroh pembangunan ekonomi, Training Islamic law, kritik pemikiran kontemporer, Training Enterpreneurship, Dauroh Siyasi, dan dauroh dalam bidang keilmuan lainnya. Dauroh ini lebih ideal besertakan kader-kader yang masih aktif di komisariat masing-masing. Alasannya karena fungsi pengkaderan paling utama dijalankan oleh wilayah komisariat, maka dalam mempersiapkan kader pakar harus dipersiapkan sejak awal semenjak dia aktif di komisariat. Sedangkan penyelenggaranya dapat share kepada masing-masing komisariat. Komisariat mana yang punya ketertarikan dalam bidang keilmuan tertentu .
Ø Melalui Instrument komunitas bidang keilmuan/komunitas pembelajar
Disini yang harapannya aktivitas KAMMI menjadi magnet bagi kader, dimana kader menemukan komunitas pembelajaran yang sesuai dengan bidangnya/interestnya. Hal ini senada dengan yang pernah disampaikan Rijalul Imam (Ketua PP KAMMI), dalam artikelnya beliau menyebutkan: “Oleh karena itu sudah selayaknya KAMMI menjadi pusat Learning Organisation (organisasi pembelajaran) di bidang dakwah, akademik, kepemimpinan, sosial, dan politik.”
Jika ini benar-benar dapat terealisasi, KAMMI tidak akan lagi "gelagapan" lagi dalam merespon berbagai jenis bidang wacana. Karena kader KAMMI kini adalah orang yang pakar di Keilmuan dan Interetnya masing-masing.


No comments